Sabtu, 27 Agustus 2011

DIALOG

Dialog antara malaikat dan mansia

Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga. Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata, "Ini adalah Seksi Penerimaan. Di sini, semua permintaan yang ditujukan pada Tuhan diterima".

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikat-ku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di sini kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya”.

Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana, hampir tidak melakukan apapun.

"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikat-ku pelan. Dia tampak malu.

"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?", tanyaku.

"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. "Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih".

"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?", tanyaku.

"Sederhana sekali, cukup berkata, 'Terima kasih, Tuhan'."

"Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri", tanyaku.

Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini."

"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia."

"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu."

Juga, "Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan, engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini."

"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia".

"Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan, maka engkau termasuk orang yang sangat jarang."

"Jika engkau masih bisa mencintai, maka engkau termasuk orang yang besar, karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari manapun."

"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan."

"Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih diberkati dari pada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali".

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa diberkatinya kita semua.

"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu".

Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih.

"Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan, atas anugrah-Mu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi."

CERPE MAAF

Jane merebahkan tubuhnya tepat di atas kasur yang empuk. Sepersekian detik dia menatap langit-langit kamarnya. Tatapannya kosong, tidak mengandung arti. Sepulangnya dari kuliah, dia hanya ingin mengistirahatkan pikirannya. Tidak ada gangguan apapun sekalipun itu ibunya.
          Tok… tok…
“Jane, ibu bawakan susu hangat untuk kamu. Kamu sudah mandi?” tanya ibunya sambil membuka pintu kamar Jane.
          Jane memejamkan matanya rapat-rapat. Mulutnya dibuka sedikit untuk menandakan dia telah terlelap.  Ketika ibunya mengguncangnya, Jane hanya mengerang pelan.
          Setiap orang yang melihat kejadian ini, pasti akan memaki Jane kasar. Bagaimana mungkin seorang anak dapat menolak kebaikan hati ibu kandungnya sendiri? Tapi Jane punya alasan kuat untuk melakukan hal tersebut.
          Tidak hanya mengguncangnya, ibunya menarik lengan Jane dalam satu hentakan kasar. Seakan tak cukup dengan itu, ibunya menyibakkan rambut Jane ke belakang telinga, lalu membentak anaknya marah. “BANGUN!”
          Sesegera mungkin Jane membuka matanya lebar-lebar. Kini, bayangan ibunya yang menakutkan seakan tergantikan oleh wajah lembut seorang ibu yang siap memanjakan putrinya dengan susu hangat di tangan kirinya. Jane menatap ibunya dalam-dalam, berusaha mencari sisa-sisa menakutkan yang mungkin masih tersorot. Tapi lagi-lagi hasilnya nihil. Yang dia temukan hanyalah sorot mata menyedihkan yang selalu membuat hatinya pilu.
“Kamu nggak mandi dulu?” tanya ibunya lembut.
          Jane hanya menggeleng pelan. Ibunya beranjak dari kursi dan berjalan menuju lemari pakaian Jane. Dia mengambil sepasang piama tidur dan mengisyaratkan Jane agar segera memakainya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Jane segera mengganti pakaiannya sesuai perintah ibunya. Masih dengan senyum mengembang, ibu Jane menggiring putrinya rebahan di atas kasur. Dia menyodorkan segelas susu hangat kesukaan Jane yang langsung diminum Jane dalam tiga kali teguk.
          Ibu Jane meraih gelas yang kini isinya telah habis dari tangan putrinya. Jane manarik selimutnya hingga ubun-ubun. Dia mendengar suara kotak musik pengantar tidur Jane dinyalakan. Siapa lagi kalau bukan ibunya? Ibunya mengelus rambut Jane lembut lalu keluar dalam diam. Musik masih terus mengalun hingga Jane terlelap. Setetes air mata kini membasahi matanya. Tak terdengar isakan sedikit pun, Jane menangis dalam diam.

***
          Dua puluh satu tahun yang lalu, Jane terlahir kembar dengan seorang gadis bernama Julie. Jane dan Julie adalah saudara kembar yang menggemaskan. Mereka selalu bersama dengan balutan pakaian yang selalu kembar.
          Semuanya seakan sempurna hingga Jane berusia enam tahun. Suatu hal yang mengerikan hingga mengintimidasi hidupnya terjadi begitu saja. Suatu takdir yang membalikkan hidupnya seratus delapan puluh derajat. Tak peduli kapan, dimana dan bagaimana kenyataannya kecelakaan tragis itu memang menjadi jalan hidup keluarganya. Hingga berefek sampai detik ini.
          Hari itu adalah hari dimana Jane kehilangan segalanya. Hari dimana dia harus kehilangan ayah yang sangat dia cintai. Hari dimana saudara kembarnya lumpuh total hingga berujung pada kematian. Hari dimana ibunya berubah menjadi orang yang tidak Jane kenal lagi. Hari dimana Jane harus berakhir sebagai korban atas takdir hidupnya ini. Sungguh membuat Jane muak untuk mengingatnya.
          Lima belas tahun yang lalu, kecelakaan yang melibatkan keluarga Jane berlangsung tragis. Di tengah hujan yang deras, sebuah kereta ekonomi dengan tujuan Jogjakarta melibas habis tubuh ayah Jane. Kesalahan petugas yang tergantikan dengan nyawa satu orang itu sungguh membuat Jane ingin berontak. Petugas kereta api yang seharusnya menandakan kereta datang itu telah melalaikan tugasnya. Dengan kekuatan Allah yang maha kuasa Jane, Julie dan ibunya dapat terselamatkan dari kecelakaan itu. Tapi tidak untuk ayah Jane.
          Ayah Jane tidak sempat meloloskan diri dari kecelakaan itu. Dia sibuk menyelamatkan nyawa Julie hingga dia merelakan nyawanya sendiri. Meskipun bagi jane, tindakan heroik ayahnya itu tidak menghasilkan apa-apa. Julie tetap pergi meninggalkan Jane dan ibunya. Julie tidak sempat keluar dari mobil, tapi dia tetap selamat karena kereta itu menggilas tepat di atas tubuh ayahnya. Julie hanya tertimpa rentuhan mobilnya yang membuatnya lumpuh total. Sampai pada akhirnya ajal menjemput Julie pergi untuk selama-lamanya.
Julie lumpuh total selama kurang lebih tiga tahun. Selama tiga tahun itu pula, Julie hanya terlentang di atas kasurnya. Tidak melakukan hal apapun. Sekalipun itu hanya berkedip atau menggerakan jari kelingkingnya. Julie seperti mayat yang masih bisa bernafas.
          Detik-detik berlalu tetap tidak membuat perubahan pada Julie. Ibunya juga hanya mengurung diri seakan tidak terima atas takdir pahit yang menimpanya itu. Jane? Jane harus berjuang sendiri. Menerima kenyataan tanpa ada yang memberinya dukungan.
          Selama tiga tahun Julie masih bisa bertahan. Julie bertahan tidak dalam asuhan lengan ibunya sendiri. Beberapa perawat silih berganti untuk merawat Julie. Sampai akhirnya, Julie tak sanggup lagi bertahan. Dia benar-benar meninggalkan Jane dan ibunya. Dia pergi untuk selamanya dan membuat ibu Jane semakin terluka. Berkali-kali dia menyalahkan diri sendiri atas keegoisannya. Berkali-kali dia menyalahkan diri sendiri karena telah mebuang waktunya hanya dengan terpuruk. Berkali-kali dia menyalahkan diri sendiri karena telah membiarkan Julie pergi tanpa sentuhan lembut kasih sayangnya. Dan rasa sesalnya itu kini dia luapkan pada Jane.
          Ibu Jane tak lagi diam terluka. Dan kini dia tak juga diam melihat Jane sendiri. Ibunya selalu ada di samping Jane sampai sekarang. Tidak membiarkan Jane sekalipun hilang dari kasat matanya. Dia menjadikan Jane boneka kesayangannya yang selalu dia anggap rapuh. Boneka yang akan menghilang bila sekali saja dia tinggalkan. Hingga sifat itu menjadi mengerikan untuk Jane.

***
          Jane mengusap keringat yang sejak tadi telah menghiasi dahinya. Berulang kali dia mengayunkan kipas tangan di depan mukanya. Panasnya matahari yang menyengat ini benar-benar membuatnya jengah.
Sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Seseorang di balik kendali mobil itu memencet belnya dua kali untuk menarik perhatian Jane. Orang itu membuka jendela mobilnya.
“Jane, belum pulang?” tanya seorang gadis yang berada di balik kemudi mobil. Gadis itu adalah Tara, sahabat Jane sejak SMA.
“Oh hai! Mobil aku mogok, so aku harus nunggu bemo deh.”
“Masih ada kuliah? Aku anter pulang yuk,” ajak sahabatnya itu. Kedua gadis ini memang bersahabat sejak SMA, tapi kedekatan mereka sekarang tidak begitu akrab lagi. Perbedaan universitas keduanya itu yang membuat hubungan mereka renggang.
“Oke deh!” seru Jane riang. Dia tidak perlu repot-repot kepanasan untuk menunggu angkutan umum membawanya pulang!

          Tara mengajak Jane mampir ke rumahnya. Setelah sekian lama tidak bertemu, kini mereka bagaikan saudara yang pernah terpisahkan ribuan tahun. Saling berbagi tawa, canda, senyum, cerita, pengalaman.
Tara tahu semuanya tentang Jane. Mulai dari kehidupan Jane dulu yang sempurna, tentang Julie, kecelakaan tragis itu, juga kondisi–ibunya? Jane melupakan ibunya!! Hampir enam jam sudah kedua gadis itu mengobrol ngalor ngidul. Tidak peduli waktu juga keadaan.
“… jam sepuluh malem?” seru Jane panik.
“i-iya,” jawab Tara terbata.
          Tanpa pikir panjang lagi, Tara segera membawa Jane pulang dengan kecepatan maksimum. Tara panik, Jane apalagi. Gadis itu lebih memilih diam selama perjalanan. Pikiran dan hatinya gelisah mengkhawatirkan ibunya. Entah apa yang akan terjadi jika ibu yang paling dicintainya itu tidak melihat anaknya lebih dari sepuluh jam. Bayangan-bayangan negatif tentang ibunya berkelebatan di benaknya. Tapi dengan kekuatannya, dia berusaha menepis bayangan menakutkan itu dari benaknya.
“Jane, sudah sampai.”
          Jane segera turun dan menghambur ke pintu rumahnya. “IBU! IBU!” Jane berteriak-teriak kalap seperti orang kesurupan. Sambil berjalan menyusuri setiap sudut rumahnya, gadis itu lambat laun mulai terisak.  Tara berjalan mengikutinya dari belakang. Tara terperangah ketika Jane melemas dan ambruk ke pelukan Tara.
“Jane,” panggi Tara lembut. Dengan tenaga yang masih tersimpan setelah berkebut-kebutan tadi, Tara menggiring Jane duduk di kursi tamu.
          Sekelebat tapi pasti, Jane mendengar suara musik pengantar tidurnya. Dengan harapan yang melambung tinggi, Jane berjalan perlahan menuju kamarnya. Setibanya di depan pintu kamarnya, Jane mengetuk pintu ragu. Tara membelai punggung Jane memberinya kekuatan. Ketika Jane membuka pintu kamarnya, dia mundur beberapa langkah diikuti sahabatnya. Kedua gadis berjilbab itu begitu terkejut mendapati orang yang mereka cari kini telah tergolek lemah.
          Jane berjalan mendekati ibunya. Bercak darah yang telah mengering menghiasi karpetnya yang berbulu lebat. Tangan kanannya terluka parah. Ibunya telah menyakiti dirinya sendiri melihat pisau lipat simpanan ayahnya tergenggam erat di tangan kirinya. Jejak air mata yang mengalir dari matanya belum menghilang. Jane melemas, dia menangis. Hanya menangis dan terus menangis.
          Tara memeluk Jane dari belakang. Manabahkan Jane atas takdir pahit yang selalu diterima sahabatnya itu.
“Jane, lihat deh,” tunjuk Tara pada sebuah kertas yang tergeletak di atas kotak musik Jane.
Jane mengulurkan tangannya dan mengambil kertas lecek yang telah menjadi teman terakhir ibunya sebelum meninggal.

          Jane, kamu dimana? Jangan bilang kamu sedang dalam perjalanan menuju ke surga. Kenapa kamu tinggalin ibu, nak. Setelah ayah, Julie dan sekarang kamu? Apa ibu memang tidak pantas untuk menjadi ibumu. Sampai-sampai kedua anak ibu selalu pergi meninggalkan ibu. maafkan ibu, nak. Ibu mohon. Lebih baik ibu mati dari pada harus hidup sebatang kara. Bunuh diri memang akan membawa ibu pada neraka. Tapi ibu lebih tidak tahan lagi merasakan neraka dunia sendirian. Ibu harap setelah hitungan ke sepuluh, kamu ada di samping ibu, memeluk ibu dengan senyum lembut di bibirmu.
1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. 8.. 9.. 10

“Aku disini bu, di sampingmu,” lirih Jane. “Maaf,” Jane larut dalam air matanya.

Rabu, 29 Juni 2011

study tour jogja

hari jumat kmrn tgl 24 jun 11 jam 3 jadwalnya gw study tour sama tmn2 sklh ke jogja, tapi sayangnya ngaret jadinya brangkatnya jam 5, gw cukup beruntung krna gw dpt bis 1, bkn bis 3 yg dtng'a lama bgt bayangin aja  yg dpt bis 3  jam 8 malem baru brangkat,, "PRAY FOR BUS 3" diprjalanan jlanya lama  bt, sengaja krna kasian sama bis 3.  wktu mkn malem di jadwlnya jam 7 ini malah ngaret lagi smpe jam stngh 10. kasian udh pada kelaperan,, di tmpt makan kita juga nungguin bis 3 yg dtng jam 12 malem , tmbh kasian makin kelaperan. selesai nungguin bis 3 makan kita lanjutin perjalanan ke jogja lwt jalur selatan. mungkin krna kekenyangan  sebis tdr semua wktu jam 2 hanya gw dan bbrpa org yg ga tdr apa lagi mrka tdr pas di nagrek macet pula gw sampe pingin muntah + ketut. di bis smpe ada yg muntah cwo pula, kata tmn gw tmngw   tampang preman nak bus muntah,, hahahahahahah.........   blm lagi yg gw sebelin di bis 1 itu klo ada yg tdr pasti di foto trs crew'a anjir bawel bgt ganggu org tdr, pingin ngelawak gitu tapi gak bisa,, hahaha garing buaknya ngehibur malah bikin stres,, trs pagi jadwalnya kita makan pagi jam 7 ngaret lagi jam 11 baru nyampe tmnt makan udh pada kelaperan tuh yg di bis sampe gak ada suara kebetulan bgt bis gw nyampe prtma jadi mkn duluan, slsai makn bis 3 bru dtng sumpah muka2 org  di bis 3 klo gw lit suram semua gara2 pada pucet.. slsai mkn kita ngelanjutin prjlnan ke jogjaa. jadwal nya sih kita  smpe jam 8 ini malah smpe jam 4 sere bayangin aj 24 jam perjalanan dari jkt ke jogja. harusnya kita udh ke musium digantara  sma ke keraton. gra2 kesiangan akhirnya kita gak kmna2 malemnya kita ke malioboro,, asli gw seneng bgt dsna seru-sru-seru,,, biasa gw ama tmn2 gw itu pada mablang dan idiot pas nunggu tmn di bis kita dada - dada sma bis di sblh yg kita gak tau  itu bis mna, eh tnpa di duga  tiba2 kita di fto sma  mrka mnapke blitz lagi yaudh gw langung nutup jendela. hahaha idiotkan malemya  plng malioboro  gw tdr di bis  lagi tdr enk2  tiba2 gw di fto anjir bgt ga sih yang moto..nyampe di villa langung mkn mlm jam 9 malem. slsai mkn gw lsng tdr, nyebelinya  tadinya gw dpt kamar yg jlk mencil dri tmn2 yg lain trs gw lsng mnta pndh kmr'a lmyn.  gw dpt sekamar 6 org, org'a gak seru akhirnya mlm'a gw tdr jam 12 paginya jam 4 gw bangun gra2 gw sakit perut gw pup deh,,  jam 5-6  gw siap2 mau prgi jam 7 sarapan ts lsng brngkt ke ketep slsai ke ketep kita ke keraton,  nyesek bgt bru msk 20 mnt eh,, kraton'a udh mau di tutup. parah! abis dri kraton kia k kasongan. dsna membosankan. slsai ke kasongan kta ke imogiri, capek bgt ksna naik 500 ank tangga trs nurunin lagi. betis gw lsng gede. trs pas di imogiri kita di ksh air , gw gatau itu air apa tapi yg pasti disuruh minum smpe stngh botol trs setiap udh stngh hrs diisi  air lagi  smpe 1 thn gak blh hbs  diisinya setiap malam jumat kliwon, mistis bgt akhirnya tu botol gw buang aja agian gw takut. tmn gw disuruh minum stngh botol malah diminum sampe habis idiot btt!! dr sna kita lsng plng ke hotel. tmn gw  pndh2 kmr gw rme yaudah gw pndh juga ke mawar 3 dsna gw gak bsa tdr gara2 tmn gw rame bgt yaudah gw maen uno smpe jam 2 baru tdr jam 5 gw balik ke kamar, mandi trs lsng naro barang di bis mau plng  makn pagi dsna gw lsng ke bis. kita prgi ke kaliurang trs lsng ke borobudur, naik tangga lagi naik tangga lagi, capek mana kesasar di borobudur, kpsh sma rombongan,  trs  ngeliatin tmn gw jth dri tangga borobudur, lumayan jath 2 tangga.. sayangnya wktu di borobudur gw gak ktmu RICHARD GERE  blm lagi dsna tmn gw sok2an ngomong sma bule.beruntunga kita di bwh ketemu ahong pdhl ahong biasa'a bwa sial ini kita ktmu ahong kya ktmu malaikat gra2 saking takut di tinggal, lucunya tmn gw kita lagi panik nyari jln keluar tmn gw mlh sibuk nyari oleh2 di dalem bkn'a nyari jln keluar.. tapi akhirnya mrka ktmu juga, . abis itu kita lsng ke goa jatijajar, gw gak smpt  lagi cuci muka dnsa.  plng drsana gw maen uno di bis. idiot kan!! mna di jln  dada2 kya org gila ke bis lain sksd gitu. slsai main uno jam 9 gw lsng tdr pules smpe jam 5. amazing  sedihnya kita hrs pisah sma tmn2 sebis,  plng ke rmh msng2. smga liburan mrka menyenangkan. amin

Selasa, 21 Juni 2011


Senin, 20 Juni 2011

HILANG SLAMANYA

Termenung naia mengingat ‘dia’, cinta pertama yang sangat berarti dalam cerita hidupnya. Namun telah dua setengah tahun lamanya mereka berpisah dan tak bertemu. Bukan karena mereka pisah dengan keributan, yang biasa terjadi dalam setiap hubungan berpacaran remaja sekarang. Jaraklah yang memaksa mereka tak bertemu lagi setelah perpisahan itu, ‘dia’ sekolah di luar kota, dan mungkin sebulan sekali kembali ke kota naia. Tentu bukan berarti naia dapat bertemu kembali dengan ‘dia’. Dan suatu saat di mana takdir mempertemukan naia dan darent kembali.



Duh, kenapa ya perasaan aku ga tenang, kenapa jadi gemetaran gini. Apa darent? Batin naia dalam hati saat berada di angkutan umum menuju tempat bimbelnya. Yah, darent adalah ‘dia’ yang di maksud naia. Dan tanpa di duga saat ia turun dari angkutan yang ia naiki, seseorang memanggil namanya dalam ramainya jalanan siang itu. Reflek saja ia menoleh sumber suara.

“Nai ! mau kemana? Ayo bareng !” teriak om Neo dari dalam mobil taruna berwarna merah tua itu. Naia sadar itu om Neo, dan mobil’a yang sering di bawa darent saat dua setengah tahun lalu.

“Oh, ga usahlah, makasih om.” Ucap naia sopan. Langsung saja ia beranjak pergi meninggalkan om neo, untuk bergegas ke tempat bimbelnya.

Sore pun tiba, di mana naia baru saja sampai rumah dari bimbelnya tadi. Baru sebentar saja ia membaringkan tubuhnya di kasur, tiba-tiba handphone naia berbunyi. Ia tak kenal nomor itu, dengan ragu ia menjawabnya.

-***-

Naia asik mencari pernak-pernik bersama alex, sahabatnya yang bisa di bilang si tomboy cantik. Yah, alex itu memang cantik seandainya dia bergaya layaknya seorang cewe.

“Eh, al. Coba kamu sekali-kali pake baju yang bener donk”. Ucap naia pada alex.

“Segini dah pake kaos sama jins andalan gw, masih di bilang ga bener?” jawab alex sembari menunjukan gaya khasnya, mengedipkan satu matanya. Yah mau di kata apa lagi, itulah alex. Merekapun turun menuju eskalator di mol itu. Lagi-lagi perasan yang sama seperti saat bertemu om neo waktu itu, kenapa ini? Tanya naia dalam hatinya, dan tiba-tiba saja ia teringat akan darent. Ia berusaha untuk tidak peduli, tapi di depan toko kaset yang ingin naia dan alex masuki, langsung saja seseorang menarik lengan naia yang kecil. Ia kaget sekali dan menoleh.

“Nai !” Sapa seorang cowo yang sangat naia kenal, namun naia tak dapat berkata. Sungguh betapa besar pebgorbanannya selama ini mencari darent, kini darent di hadapannya dan menggenggam erat lengan naia.

“Nai, kenapa seminggu yang lalu kamu bilang gamau ketemu aku?” tanya darent langsung ke pokok pembicaraan.

“Maap.” Hanya seuntai kata itulah yang akhirnya keluar dari bibir naia, sesaat setelah terdiam atas ketidakpercayaannya, kemudian berusaha pergi dari tempat itu. Darent mengerti suasana seperti ini, mungkin naia tak ingin lagi bertemu dengannya, atas kesalahan ia yang tidak menghubungi naia selama bertahun-tahun. Naia pun menghilang dari pandangan darent keluar entah kemana.

“Udah nai, maapin dia. Lo sadar ga itu darent yang selama ini lo pikirin?” Ucap alex berusaha menenangkan, ia tahu sahabatnya itu sedang gundah. Ia mengerti naia sebetulnya ingin bertemu, namun naia ingin belajar melupakannya.

“Ga bisa! Seminggu lalu dia nelfon dan mau ketemu. Tapi aku tolak, karena dia bilang mungkin kita ga bisa kaya dulu lagi.” Jawab naia, yang gemetaran tak sanggup mengingat darent kembali. Hampir saja ia menangis. Alex pun hanya ber ‘oh saja, dan mengantar naia pulang.

-***-

Sungguh liburan yang kurang menyenangkan bagi naia. Padahal sudah seminggu lalu kejadian bertemu darent itu berlangsung, dan sampai kemarin pula terakhir darent kembali namun tak di anggap oleh naia. Ia fikir semuanya sia-sia, liburan 2 minggu ini membuat naia lelah, tapi minggu depan sekolah sudah kembali aktif, dan memaksa naia harus cepat memuaskan diri dengan jalan-jalan atau wisata kuliner. Seperti biasa bersama alex, karena selalu saja dia yang punya waktu untuk naia. Memang sahabat terbaik bagi naia, selalu ada saat butuh, sedih, dan bahagia bersama. Mereka keliling kota untuk menemukan hal baru dan seru. Tak lupa wisata kuliner di saat perut sudah memanggil, mereka pun asik berfoto-foto, seolah tak ada beban yang di pikirkan naia.

Tapi tiba-tiba saja hati naia sakit sekali, sepertinya sesak. Alex yang khawatir menuntun naia duduk di warung bawah pohon di atas trotoar, yang berada tepat di belakang mereka berdiri saat ini.

“Ada apa nai?” tanya alex khawatir.

“Gatau al, dada ku sesak banget, sakit.” Rintih naia, padahal seingat dia, tak punya penyakit hati atau asma sekalipun. Saat itu pula ibu darent yaitu tante gina menghubungi naia.

“Halo, ada apa tante?” ucap naia sopan.

“Nai, tolong segera ke rumah tante ya! Secepat mungkin.” Jawab tante gina yang terdengar sedih. Setelah menutup telfon, langsung naia melesat cepat ke rumah darent yang tak jauh dari rumahnya dengan motor matik alex. Sesampainya di rumah, terlihat sepi. Hanya ada tante gina dan om Neo yang sedang menangis.

“Om, tante, ada apa sebenarnya?” tanya naia yang sangat khawatir. Tante gina pun menjelaskannya, dan memberi sepucuk surat. Perlahan naia membukanya yang sudah meneteskan air mata.

To: naia
Maapin aku yang ga bisa jadi sempurna untuk kamu. Aku tau kamu benci sama aku, tapi maafkan aku. Aku mengatakan kita tak bisa bersama karena aku sakit, penyakit yang dapat merenggut jiwaku, aku ga bisa menjaga kamu seperti dulu, nai. Dan kini mungkin aku udah di alam ku sendiri, namun aku akan selalu menyayangimu. Waktu itu, aku ingin mengatakan bahwa waktuku ga lama lagi, tapi kamu pergi begitu saja. Aku mengerti. Dan aku pun pergi dari kehidupan kamu. Aku udah tenang ko, karena aku tau kamu masih sayang aku.
Kamu adalah yang pertama dan terakhir untuk aku, terimakasih.
Tak sanggup menahan sakitnya, naia terduduk di bawah kaki tante gina. Alex dan om Neo pun berusaha menenangkannya. Yah, kemarin adalah saat terakhir darent berada di hadapannya, ia telah pergi. Naia sungguh menyesal, penyesalan yang kedua kalinya. Sungguh bodoh sekali ia, darent membutuhkannya tapi naia malah meninggalkannya. Terus saja naia menyalahkan dirinya. Ia sayang pada darent, dia cinta pertama, yang mengenalkan arti cinta sejati padanya. Ia kesal pada dirinya, dan mengingat betapa sebenarnya yang di lakukan darent itu sangat tulus .

Apa daya, semua telah terjadi. Setiap minggu naia selalu berkunjung ke makam darent, ia berjanji untuk bisa menjadi yang lebih baik, dan tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Karena ia telah belajar dari semuanya.

Janganlah kita menyia-nyiakan seseorang yang berusaha tulus pada kita. Sebelum kita tau apa sebenarnya maksud dia, dan hargailah perasan seseorang baik itu orang tua, keluarga, teman, sahabat, pacar, bahkan orang lain sekalipun. Karena suatu perjuangan akan sia-sia untuk kita yang tak bisa menerimanya.